Sabtu, 30 April 2022

Kusta : Dinamika Perawatan dan Pencegahan Disabilitas

Kusta masih menjadi polemik didalam dunia kesehatan, dimana sampai saat ini pasien kusta dan penyandang disabilitas karena kusta masih menghadapi berbagai kesulitan. Salah satunya yang dihadapi adalah terkait akses terhadap layanan kesehatan yang layak dan minimnya informasi tentang tata cara perawatan dan penanganan pasien kusta.

Pasalnya tidak semua layanan kesehatan memahami informasi tentang kusta dan masih tingginya stigma terhadap kusta di kalangan tenaga kesehatan itu sendiri sehingga orang dengan kusta tidak mendapatkan layanan yang optimal dan enggan untuk berobat.

Hal ini tentu akan memperparah kondisi karena selain berisiko menyebabkan disabilitas orang dengan kusta yang tidak diobati akan dapat menularkan bakteri kusta kepada sekitarnya. Lalu bagaimana upaya pencegahan preventif pada kusta dilakukan? Dan seperti apa dinamika yang terjadi pada upaya edukasi perawatan diri dan pencegahan disabilitas pada kusta?


Oleh karena itu pada live streaming kali ini, Siaran Ruang Publik KBR membahas tentang dinamika perawatan diri dan pencegahan disabilitas pada kusta di lapangan dengan NLR Indonesia pada 28 April 2022. Dan akan berbincang bincang dengan dr. M. Riby Tehnichal Advisor ProgramLeprosy Control, Nlrindonesia serta Sierli Natar, S.Kep selaku Wasor TB/Kusta Dinas Kesehatan, Kota Makassar.

 

Stigma pada Kusta

Sebenarnya apakah itu kusta? 

dr. M. Riby Tehnichal Advisor ProgramLeprosy Control Nlr Indonesia, menyampaikan ,” Kusta sendiri merupakan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium yang ditandai dengan munculnya bercak di kulit berwarna putih atau kemerahan. Bercak tersebut biasanya tidak gatal atau sakit dan kita harus waspada jika terdapat hal itu pada kulit kita. Pada beberapa kasus, penyakit kusta bisa menyebabkan mati rasa pada si penderita."

Hal itu menyebabkan adanya stigma negatif dan diskriminasi dikalangan masyarakat. Banyak pula yang beranggapan bawah kusta merupakan penyakit yg cepat menular sehingga mereka menghindari penderita kusta.

Adapun dampak dari stigma pada penderita kusta itu sendiri antara lain:
  1. Pasien penderita malu keluar untuk berinteraksi dan tidak mau terbuka kepada Tenaga medis.
  2. Keluarga yang mengetahui jika ada anggota keluarganya terkena kusta pun cenderung menutupi dikarenakan rasa malu terhadap lingkungan sekitar. Bahkan tak jarang keluarga turut andil dalam mengucilkan pasien kusta.
  3. Minimnya pengetahuan tenaga kesehatan bagaimana penanganan pasien kusta membuat sebagian dari mereka seolah diskriminatif dalam memberikan pelayanan kesehatan.
  4. Kurangnya pemahaman Masyarakat di lingkungan penderita kusta sehingga mereka mengucilkan para pasien kusta ini.
Dengan adanya stigma negatif dan diskriminasi tersebut membuat penderita kusta tidak memiliki semangat untuk melakukan proses pengobatan yang tepat. Dampaknya pun menjadi sangat serius jika hal itu terjadi, karena tidak hanya mengganggu kesehatan mereka tetapi bisa menurunkan mental juga bahkan akan bisa berimbas menjadi disabilitas.


Perawatan Pada Pasien Kusta

Penderita kusta memiliki gejala seperti bercak-bercak berwarna terang atau kemerahan di kulit disertai dengan berkurangnya kemampuan merasa, mati rasa, dan lemas pada tangan dan kaki. Bagi yang memiliki gejala seperti maka perlu untuk memastikan ke puskesmas terdekat. Jika memang dinyatakan kusta maka perlu brobat rutin hingga sampai dinyatakan sembuh.

dr. M. Riby Tehnichal Advisor ProgramLeprosy Control Nlr Indonesia juga mengingatkan pentingnya 3M bagi penderita kusta yaitu :
Memeriksa, periksa kondisi secara detail untuk mengetahui tingkatannya
Merawat, rawat bagian tubuh yang sehingga akan mengurangi rasa sakitnya
Melindungi, menjaga bagian tubuh yang terluka karna kusta guna mencegah disabilitas.

Untuk perawatan diri secara mandiri pun dapat dilakukan oleh pasien. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Sierli Natar, S.Kep selaku Wasor TB/Kusta Dinas Kesehatan, Kota Makassar ,” agar penyakit kusta tidak semakin parah dan kecacatan bisa dicegah, maka penderita kusta perlu memahami bagaimana perawatan diri terhadap penyakitnya. Hal ini terutama dilakukan kepada pasien yang mengalami kelainan fungsi syaraf, berupa mati rasa dan penebalan pada kulit.”

Perawatan diri yang dilakukan meliputi : perendaman di air biasa selama 20 menit, penggosokan dengan batu apung,  dan pengolesan dengan minyak kelapa pada daerah yang mengalami penebalan. Jika ada luka,  harus ditutup dengan kain kasa atau kain perca.

Dengan adanya perawatan diri secara rutin maka diharapkan akan bisa mencegah disabilitas bagi penderita kusta. Selain itu setelah setelah pengobatan pun harus rutin datang menemui tenaga kesehatan setiap tiga bulan minimal dua tahun maksimal lima tahun untuk diperiksa fungsi sarafnya.

Guna mendukung semua proses perawatan pada pasien kusta maka perlu andil beberapa pihak yaitu dukungan keluarga untuk memberikan motivasi kepada penderita dan tenaga kesehatan sendiri mampu melaksanakan tugasnya dengan baik serta kerjasama semua pihak dalam rangka memberantas kusta.
 
Upaya mengeliminasi kusta ini merupakan tugas kita bersama .Semua pihak bisa terlibat untuk mengatasi masalah kusta di Indonesia dan juga untuk pasien dukungan itu bukan cuma dari diri sendiri tapi juga keluarganya ikut membantu supaya penderita ini bisa cepat sembuh.  



0 komentar: